logo2021

Sebagai organisasi kemanusiaan terbesar di Indonesia, PMI diminta untuk selalu bekerja dengan hati. Hal ini dikarenakan visi PMI adalah untuk membantu pemerintah dalam hal Kemanusiaan.

Demikian diungkapkan Walikota Tegal Hj Siti Masitha Soeparno saat meninjau pelayanan dan sarpras di Markas PMI Jalan KS Tubun Senin lalu. Pada kesempatan tersebut, Walikota yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan Dr Muh Hafidz meninjau sejumlah fasilitas pengelolaan yang ada di Unit Donor Darah(UDD), Ambulance dan sejumlah ruangan yang ada.

Bahkan Walikota sempat menyatakan siap diambil darahnya jika diperlukan kepada salah seorang keluarga pasien yang kebetulan berada di lokasi. Setelah melakukan tinjauan, Walikota kemudian melakukan audiensi dengan Pengurus PMI yang ada. Hadir dalam audiensi tersebut, Ketua PMI Suranto, S.Pd, Direktur UDD Dr Hadi Gunawan dan sejumlah pengurus lainnya.

Usai audiensi, Walikota yang akrab disapa Bunda Sitha tersebut mengatakan kinerja PMI saat ini sudah cukup bagus, apalagi hal itu merupakan program pemerintah dalam penanggungan masalah kemanusiaan. Menurutnya yang perlu dilakukan sekarang adalah menjalin komunikasi yang intens dengan Pemerintah sehingga kinerja yang sudah baik bisa ditingkatkan lagi sesuai dengan mekanisme yang ada.

‎”Kinerja PMI saat ini sudah cukup bagus, sekarang tinggal menjalin komunikasi yang intens dengan Pemerintah dengan membuat suatu laporan, melakukan pertemuan rutin. Intinya meningkatkan kinerja sesuai dengan mekanisme yang ada,” tandasnya.

Kedepan, lanjut Sitha,  Pemerintah Kota Tegal melalui dinas terkait siap melakukan pembinaan. Apalagi misi PMI betul-betul untuk kemanusiaan.

“Pesan saya adalah selalu bekerja dengan hati dan terus tingkatkan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Sementara Ketua PMI Kota Tegal Suranto mengatakan pihaknya akan terus berupaya meningkatkan pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat. Tidak hanya dalam hal donor darah melainkan kepada hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kemanusiaan.

“Perlu kami sampaikan, tugas PMI tidak hanya melulu mengurusi donor darah saja, akan tetapi kepada masalah-masalah kemanusiaan seperti penanggulangan bencana,”ungkapnya.

Suranto mengatakan pelayanan bencana kepada masyarakat tidak terbatas pada bencana lokal saja, akan tetapi bisa dimana saja. Ia mencontohkan saat terjadi bencana tsunami di Aceh dan di Yogyakarta, pihaknya mengirimkan sejumlah relawannya untuk membantu penanggulangan bencana disana. ” Bahkan saat di luar Negeri ada bencana kami juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan sejumlah bantuan kesana,” sambungnya.

Terkait pelayanan darah, Direktur UDD Dr Hadi Gunawan mengatakan saat ini produksi darah ditempatnya mencapai 14.000 darah. Hal itu berarti ada sekitar 1.200 kantong setiap bulannya. “Jumlah ini sudah terpenuhi dengan pendonor yang ada. Bahkan, kami juga melayani pasien dari luar Kota Tegal,” ungkapnya.

Khusus mengenai biaya, Hadi menegaskan Biaya Pengganti Pengelolaan Darah (BPPD) ditentukan oleh SK Gubernur. Sehingga besarannya akan sama dalam 1 provinsi. Biaya tersebut tidak ada yang dipakai untuk darah, semuanya murni untuk pengelolaan darah.

Untuk Informasi lebih lanjut dapat menghubungi : M. Nashir, Humas PMI Prov. Jateng, HP. 0812 28011455

 

 

 

X