logo2021

Sebut saja namanya Wati. Tak pernah terbesit dibenaknya bahwa ia akan menjadi seorang  Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Himpitan ekonomi serta pendidikan rendah yang dimilikinya membuatnya terpaksa memilih untuk menjadi pahlawan devisa. Ketelatenan-nya mengurus segala persoalan rumah tangga menjadi dasar alasan ia dipekerjakan sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di negeri orang.

Arab Saudi, menjadi destinasi favorit bagi pahlawan devisa asal Indonesia. Alasan budaya, agama hingga makanan yang mirip dengan rumpun Indonesia mendasari mereka memilih Arab Saudi. Pun halnya dengan Wati. Ia memilih Arab Saudi sebagai tempatnya mengadu nasib.


Keberuntungan ternyata berpihak pada Wati. TKI asal Tegalsari itu mendapat perlakuan baik dari majikannya. Pekerjaan dan gaji yang ia terima sesuai dengan perjanjian kerja, membuat ia bersyukur tak bernasib seperti TKI lainnya yang mengalami kekecewaan. Kesan awal yang baik dari pekerjaan sebelumnya, Wati pun kembali terbang ke negeri orang. Kali ini ia ditempatkan di Oman. Namun sayang, dewi fortuna tampak enggan menghampirinya. Perlakuan yang tidak baik didapatinya setiap hari.

“Disana saya seringkali di hujat dan mendapatkan tindak kekerasan oleh keluarga majikan saya. Padahal saya sudah melakukan pekerjaan saya sesuai dengan perjanjian kerja. Mereka juga membayarkan gaji saya hanya separuh. Gaji yang didapatkan hanya cukup untuk membeli keperluan saya disana, seperti makanan dan perlengkapan mandi. Bahkan untuk berobat pun harus menggunakan uang sendiri. Tak bersisa untuk dikirim ke keluarga di Indonesia,” lirih Wati dalam sesi sharing dengan fasilitator PSP PMI.

Agustus 2014, Wati berhasil kembali ke Indonesia. Itupun menggunakan biaya yang berasal dari gajinya sendiri. Kejadian yang dialami membekas jelas dalam ingatan Wati. Membuat ia depresi setiap kali terbayang apa yang ia alami. Akhirnya pada Kamis (4/6), Wati mengikuti kegiatan Dukungan Psikososial dari Palang Merah Indonesia (PMI). Dalam kegiatan tersebut, Wati menceritakan segala yang ia alami selama bekerja di luar negeri. Dengan pendampingan psikologis dari fasilitator PSP PMI, Wati pun merasa lukanya selama ini terobati.

“Setelah mendapat pendampingan dari PMI, kini perasaan saya sudah lebih lega dibanding sebelumnya. Kini saya terpacu untuk mengembangkan diri dengan membuka usaha dirumah. Tak ada keinginan untuk kembali lagi mengadu nasib di luar negeri. Terimakasih PMI,” seru Wati dengan penuh semangat. Senyum merekah di wajah serta sorot mata penuh semangat menggambarkan bahwa ia telah sembuh dari depresinya dan siap mengembangkan diri jauh lebih baik dari sebelumnya.


Untuk informasi selengkapnya, dapat menghubungi : 
Leo Patiassina, Kasubdiv. Pelayanan Sosial Markas Pusat PMITelp. 021-7992325 Ext. 306, Email : leo_pattiasina@pmi.or.id

X