logo2021

Musibah hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura yang membawa penumpang 155 dan 7 kru AirAsia, membuat empati Nur Taufiq mahasiswa (Unesa). Taufiq, panggilan Nur Taufiq, ikut turun membantu penanganan korban pesawat yang celaka di Selat Karimata itu.

Taufiq merupakan mahasiswa asal Sekaran, Lamongan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Ia sudah setahun menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya. Begitu mendengar musibah AirAsia, ia langsung menawarkan diri untuk bergabung dengan posko PMI.

“PMI mengabarkan ada yang bisa ikut atau tidak. Kebetulan saya free (tidak ada kuliah hanya tinggal skripsi), saya mengajukan diri untuk ikut terlibat,” ujar Nur Taufiq saat bincang-bincang dengan detikcom di posko PMI depan Crisis Center di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Jumat (2/1/2015).

Taufiq yang menjadi relawan PMI Kota Surabaya sejak 2013 lalu menerangkan, keinginannya menjadi relawan, karena ingin menimba ilmu dan pengetahuan serta menerapkan hasil yang didapatnya dari pendidikan dan latihan (diklat) relawan PMI Surabaya.

“Ini kan sifatnya kemanusian. Saya secara pribadi ingin melatih rasa empati saya,” kesan mahasiswa semester 9 ini.

“Relawan di Surabaya banyak. Mungkin yang punya kesempatan waktu cuma sedikit orang, dan saya mengajukan sendiri,” katanya.

Selama bertugas sebagai relawan sejak hari pertama, Minggu (28/12/2014) di posko Crisis Center di Terminal 2 Bandara Juanda sampai poskonya dipindah di Mapolda Jatim, Taufiq sudah melakukan kegiatan sosial seperti mengangkat dan mengantarkan jenazah korban AirAsia.

“Saya belum bisa melakukan pendampingan ke keluarga penumpang, karena belum mengambil spesialis Psikologi Support Program (PSP),” jelasnya.

Sementara itu, Dasa Warsiah Adchawati, Kabid Relawan PMI Kota Surabaya menerangkan, kehadiran PMI Kota Surabaya di musibah pesawat AirAsia atas perintah langsung Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

“Mulai hari pertama, Ibu Walikota (Tri Rismaharini) memerintahkan agar PMI siaga di Balaikota. Sekitar jam 9 mulai banyak keluarga berdatangan di Juanda dan mengalami kepanikan, shock, kami diperintahkan geser ke Juanda bersama Dinas Kesehatan sampai sekarang,” ujarnya.

Dasa menerangkan, setiap hari personel yang diterjunkan sebanyak 20 personel terdiri dari First Aider (pelaku pertolongan pertama), PSP (psikological support program) gabungan dari perawat, dokter yang bertugas melakukan pendampingan ke keluarga penumpang.

“Personel PMI ini kebanyakan relawan dan sukarelawan. Yang profesi hanya dokter dan perawat,” terangnya sambil menambahkan, relawan melakukan tugas seperti membantu dan mengangkat jenazah. Membantu pendataan di antem mortem sampai pendampingan ke keluarga korban.

“Ketika ada peluang masuk, PSP akan berikan support dengan face to face. Meski jenazah sudah diserahkan ke keluarga, PSP akan tetap mendampingi sesuai situasi dan kondisi,” tandasnya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2015/01/02/182842/2792831/10/2/empati-nur-taufiq-mahasiswa-yang-pending-garap-skripsi-demi-jadi-relawan

X