logo2021

Mendengar kata Palang Merah Indonesia (PMI), dr. Dewindra Widiamurti, kembali mengenang bagaimana dirinya mengawali perjalanan kegiatan kemanusiaannya pada tahun 2004 silam. Kala itu, ramai berita di layar kaca memperlihatkan bagaimana wilayah Serambi Mekah porak poranda akibat Gempa dan Tsunami. Tragedi tersebut membuat wanita  yang memiliki latar pendidikan dokter ini, terketuk hatinya untuk membantu masyarakat terdampak. Namun keraguan sempat terlintas dibenaknya. Pasalnya, pada masa itu Aceh masih menjadi wilayah konflik.

Just Follow What Your Heart Said – kalimat dari ayahanda Dewindra tersebut mampu menghilangkan keraguan sang dokter muda. Dengan keyakinan penuh serta dorongan yang kuat dari keluarga, Dewindra mendaftarkan diri sebagai Volunteer Palang Merah Indonesia. Sesuai dengan background yang di miliki, dr. Dewindra menjadi bagian tim medis di Rumah Sakit Lapangan Banda Aceh dalam operasi tanggap bencana Tsunami.


Tugas kemanusiaan Dewindra tidak hanya dilakukan saat bencana Tsunami terjadi. Pasca Tsunami, Dewindra bekerja di PMI bidang kesehatan, pengembangan program pengurangan risiko bencana, serta penanggulangan bencana dan wabah (pandemic dan epidemic). Mendapat tantangan baru di Timor Leste, Dewindra melebarkan aksi kemanusiaannya di wilayah Dili sebagai Health and Disaster Risk Reduction Delegate  selama 1,5 tahun.

Kepiawaian dokter yang juga merupakan penyanyi Jazz ini dalam hal kemanusiaan, membuat dirinya kembali di recruit oleh Federasi Internasional Palang Merah (IFRC). Berangkat menuju Liberia di tahun 2014, Dewindra ditugaskan untuk membantu Palang Merah Liberia dalam bencana wabah Ebola yang timbul sejak akhir tahun lalu.

Ebola merupakan wabah yang menjadi krisis kesehatan masyarakat global. Berbagai organisasi dan pemerintah turut membantu negara yang terdampak. Hingga kini, dr. Dewindra menjadi salah satu volunteer dari Indonesia yang bertugas mendukung respon Ebola di Liberia sebagai koordinator kesehatan darurat.

Virus Ebola memiliki fase yang berbeda, bahkan dapat berubah-ubah sewaktu-waktu semudah memutar-balikkan tangan.  Dr. Dewindra bersama tim medis lainnya terus berupaya menanggapi keadaan darurat Ebola. Salah satu upayanya adalah mengedukasi para ibu di Liberia seputar  pendidikan, promosi kesehatan serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan virus Ebola.

Dr. Dewindra mengaku sangat menikmati setiap momen yang ia lalui dalam misi kemanusiaan.

“Aku bisa sampai hingga posisi saat ini karena aku tidak menyerah untuk belajar hal baru. Belajar itu proses yang berlangsung seumur hidup. Setiap momen yang kita lalui dalam hidup ini pasti ada proses belajar. Dalam prosesnya, kita juga harus belajar mendengarkan kritikan yang di berikan dan menghargai pendapat atau masukan dari orang lain. Proses belajar itu juga tidak perlu takut salah, karena dari sebuah kesalahan kita dapat menemukan banyak jalan menuju kesuksesan. Intinya, Never stop to learn, to listen and to respect others. That’s the key of success.” Ujar Dewindra.

Hari ini (8/3) adalah hari Internasional Women Day. Sosok dr. Dewindra menjadi role model bagi seluruh wanita. Perjalanan Dewindra dalam meraih kesuksesan menjadi sebuah pembelajaran, bahwa meraih kesuksesan harus melalui sebuah proses belajar diiringi dengan tekad yang kuat. Semua wanita dapat sukses, tinggal bagaimana pribadi masing-masing mau berusaha mencapai kesuksesan tersebut.

X