logo2021

Musim kemarau baru berjalan satu bulan. Namun masyarakat mulai mengalami kekurangan air bersih. Dari hasil assessment warga di Desa Purwodadi sudah mulai antri air di sumber air seperti Wonosari di Dusun Duwet, Desa Purwodadi.

Warga yang tidak memiliki kendaraan rela berjalan kaki sejauh ratusan meter. Satu hari hanya memanfaatkan maksimal empat jeriken air untuk keperluan memasak dan minum. Untuk mandi, warga harus pergi ke telaga.

Bagi warga yang mampu, mereka bisa membeli air bersih dengan harga Rp100.000 satu tanki. Namun uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang sedikit untuk sebagian warga Desa Purwodadi.

Mengetahui kondisi tersebut, Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Gunungkidul tergerak untuk membantu. KSR PMI Gunungkidul mulai menjalankan program adopsi air bersih.

Komandan KSR PMI Gunungkidul Agus Fitriyanto menuturkan program ini merupakan program awal dari relawan PMI Gunungkidul. PMI menjadi fasilitator tangki dan solar untuk operasional tangki. “Mengenai siapa yang menjadi sasaran dan bagaimana sistem penyalurannya kami serahkan penuh kepada masyarakat,” ucap dia.

Melalui program ini warga masyarakat diajak untuk pro aktif dalam menyelesaikan permasalahan di sekitar mereka. Masyarakat diajak untuk mandiri dalam menghadapi persoalan dan mampu menjadi pengambil keputusan. “Masyarakat merupakan orang lokal yang lebih tau kondisi riil di lapangan. Dengan keterlibatan mereka, maka penyaluran program bisa tepat sasara,” imbuh dia.

Pilot project dari program ini didanai oleh KSR PMI Gunungkidul. Namun ke depannya program ini bisa diadipsi oleh donatur. Sebagai langkah pertama Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus menjadi sasaran. Program sudah mulai bergulir Sabtu (7/6). Selama lima hari setidaknya sudah ada 19 tanki air yang disalurkan untuk mengisi 20 penampungan air hujan milik warga.

Di Desa Purwodadi juga ditunjuk satu koordinator untuk menyukseskan program tersebut. Koordinator di tingkat desa yakni Saido. Ia mengaku senang dengan program tersebut karena masyarakat menjadi mandiri.

“Masyarakat jadi tahu harus bagaimana menyikapi kondisi di lapangan sehingga tidak terlalu tergantung dari bantuan pemerintah,” ujar dia. Masyarakat juga diajak mengelola dan mengantisipasi segala konflik yang kemungkinan muncul.

Informasi lebih lanjut: Agus Fitriyanto, Komandan KSR PMI Gunungkidul, Hp. 087838225282

X