logo2021

PMI AKAN PERTEMUKAN KELUARGA YANG TERPISAH

Ayu Paraswati

Ayu Paraswati

Keluarga yang terpisah; Seorang ibu yang nasibnya tak diketahui, anak-anak yang kehilangan kontak dengan orang-tuanya, seorang ayah yang mungkin terluka, seorang kakak yang mencari keberadaan adiknya.

Kejadian tersebut merupakan situasi-situasi yng mungkin muncul setelah terjadinya bencana, konflik bersenjata, ketegangan dalam negeri atau alasan kemanusiaan lainnya, khususnya ketika system komunikasi tidak lagi tersedia.

Atas dasar kemanusiaan, Palang Merah Indonesia (PMI) mencoba untuk memulihkan kembali harapan keluarga yang kehilangan hubungan dengan anggota keluarganya yang terkasih melalui pelayanan Restoring Family Links.

Pemulihan Hubungan Keluarga – Restoring Family Links (RFL) adalah salah satu bentuk layanan PMI yang bertujuan untuk memfasilitasi keluarga yang kehilangan kontak dengan anggota keluarga terkasihnya sehingga dapat terjalin kembali.

Antara Larantuka dan Timor Leste

Berawal dari seorang pendeta bernama Dominggus yang mengadakan pelayanan di pulau besar Maumere, Flores – NTT, berbincang-bincang dengan salah satu jemaat bernama Manuel. Manuel bercerita mengenai dirinya yang dahulu berasal dari Timor Leste. Pada saat terjadinya konflik di Timor Leste, beliau bekerja mengangkut senjata para tentara. Hingga akhirnya beliau terpisah dengan keluarganya. Merasa dirinya adalah sebatangkara, akhirnya beliau diangkat oleh sebuah keluarga TNI.

Sekitar tahun 1977, Beliau dibawa oleh keluarga TNI tersebut ke Larantuka, Flores. Ia mengubah status kewarganegaraannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) dan berganti nama dengan nama Manuel. Sebelumnya, diketahui beliau bernama Nawarubi. Setelahnya, beliau berkeluarga dan menetap di Flores. Kini ia memiliki 6 orang anak, 1 orang menantu dan 1 orang cucu.

Dominggus yang domisili asalnya sama dengan Manuel ini, mencoba berkomunikasi dengan komunitas Timor Leste melalui jejaring sosial, Facebook dan memberikan identitas serta foto Manuel. Tak disangka, salah satu anggota dalam group tersebut adalah kakak dari Manuel. Akhirnya keduanya mulai berkomunikasi via telfon.

Keluarganya mengira bahwa Manuel telah tiada disaat konflik yang terjadi di Timor Leste. Bahkan, kuburan atas nama Manuel telah dibuat. Tak disangka ternyata Manuel masih hidup. Tidak lama setelahnya, muncul keinginan Manuel untuk ke Timor Leste. Bukan sekedar mengunjungi keluarganya, melainkan pindah ke Timor Leste. Manuel pun menghubungi PMI meminta untuk dipertemukan kembali dengan keluarganya di Timor Leste. PMI pun mengunjungi keluarga Manuel untuk mendata perpindahan keluarganya (27/11).

“Proses pertemuan keluarga ini akan berlangsung cukup panjang  Sebelumnya, kita harus memastikan bahwa seluruh keluarga siap untuk dipindahkan. Selanjutnya, kita akan mengurus semua proses perpindahannya. Selain itu, kita juga harus berkordinasi dengan CVTL, Imigrasi, Deplu dan Kedutaan Timor Leste.” Jelas Andreane Tampubolon, Kepala Sub Divisi Restoring Family Links PMI Pusat.

Diketahui bahwa salah satu dari 6 orang anak Manuel yang sudah berkeluarga tidak bersedia dipindahkan. Sedangkan istri Manuel tak ingin dipindahkan jika semua anaknya tidak turut serta. Ini salah satu alasan yang membuat perpindahan akan berlangsung cukup panjang. Namun, PMI akan tetap memproses perpindahan tersebut agar Manuel beserta keluarga dapat kembali bersama dengan keluarga besarnya.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi : Andreane Tampubolon, Kepala Sub Divisi Restoring Family Links PMI Pusat, Tlp: 0818429954, Email: andreane_tampubolon@pmi.or.id

LOGIN

Belum punya akun? Silakan klik tombol di bawah ini untuk melakukan pendaftaran.

DAFTAR

  • Halaman 1
  • Halaman 2
  • Halaman 3