logo2021

LA NINA DI TENGAH PANDEMI, PMI SIAPKAN AKSI DINI DI MASYARAKAT DAN PROTOKOL KESEHATAN TANGANI BENCANA

Ayu Paraswati

Ayu Paraswati

Saat ini sedang terjadi fenomena La Nina di Samudera Pasifik dengan intensitas sedang (moderate) yang mengakibatkan anomali cuaca berupa peningkatan akumulasi curah hujan hingga 40 persen. Kondisi cuaca ekstrim akibat La Nina tersebut telah menyebabkan dan masih berpotensi menyebabkan terjadi banjir, longsor, banjir bandang dan permasalahan kesehatan lainnya.
Puncak dampak La Nina akan mulai terjadi pada bulan November tahun ini dan diprediksi berakhir di bulan Maret atau April 2021.

Mengantisipasi La Nina muncul di tengah Pandemi, PMI menyerukan kesiapsiagaan relawan menghadapi potensi bencana akibat fenomena alam tersebut. PMI di semua tingkatan dari Provinsi hingga Kabupaten/Kota diminta menyiapkan rencana pencegahan serta penanganan bencana akibat cuaca ekstrem tersebut. PMI juga akan menyiapkan protokol penanganan bencana di tengah pandemi covid-19.

PMI sebagai organisasi kemanusiaan melakukan pencegahan dan penanganan potensi bencana akibat anomali cuaca ini. Sekretaris Jenderal PMI, Sudirman Said menjelaskan, PMI telah menyusun kebijakan Nasional tentang Tanggap Darurat Banjir (TDB) dan akan menjabarkannya ke PMI Propinsi dan Kabupaten/Kota.

“Kami buat kebijakan nasional, kemudian dijabarkan dan disosialisasikan ke PMI di daerah. Kami juga melibatkan masyarakat dalam aksi dini kesiapsiagaan ini, untuk memaksimalkan peran anggota SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) PMI di tingkat desa,” jelasnya.

“Sampai dengan tahun 2020, Anggota Sibat PMI telah mencapai 20.100 personel yang tersebar di 1.005 Desa di 23 Propinsi di Indonesia. Dengan adanya Sibat di wilayah yang rawan bencana, akan memudahkan antisipasi dan aksi dini di masyarakat misalnya dengan mempromosikan perilaku tangguh bencana mulai dari tingkat keluarga sampai masyarakat,” tambah Sudirman Said.

“PMI juga mengumpulkan informasi dari otoritas pemerintah (BMKG dan BNPB) terkait dampak La Nina. Kemudian, PMI mengkaji dan menerjemahkannya ke dalam bahasa aksi masyarakat.” Lanjut Sudirman Said.

“Bersama-sama dengan stakeholder lainnya, kami akan menggerakkan masyarakat melakukan aksi dini salah satunya dengan menggunakan teknologi forecast untuk mengetahui perkiraan mengenai cuaca,” lanjutnya.

Dalam membantu upaya pemerintah menangani bencana, PMI juga menyiapkan stok berupa Hygiene kit, Baby Kit, Family Kit, Terpal dan Selimut untuk menghadapi bencana, di 6 gudang regional PMI yang tersebar di Sumatera Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

“Kesiapan 6 gudang regional PMI dapat mengcover sebanyak 25 juta jiwa, di Banten dan Jawa Timur PMI menyiapkan kebutuhan Hygiene kit, Baby Kit, Family Kit, Terpal dan Selimut untuk kebutuhan 5000 Kepala Keluarga (KK), sementara untuk Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan PMI Menyiapkan untuk 2.000 KK,” papar Sudirman Said.

Selain menyiapkan langkah kesiapsiagaan dan aksi dini, PMI juga tengah menyiapkan penanganan bencana di tengah pandemi. Kepala Divisi Penanganan Bencana PMI Muhammad Arifin mengatakan, protokol kesehatan akan diterapkan pada semua upaya kesiapsiagaan. Protokol kesehatan seperti pengecekan suhu, pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak diterapkan untuk melindungi penyintas dan relawan.

“Shelter pengungsian juga diatur dengan memenuhi standar ventilasi, social distancing, dan nanti perlu disediakan fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan sediakan masker,” kata Arifin.

Dengan kesiapsiagaan masyarakat melakukan aksi dini, diharapkan dapat meminimalkan dampak bencana akibat La Nina.

LOGIN

Belum punya akun? Silakan klik tombol di bawah ini untuk melakukan pendaftaran.

DAFTAR

X