logo2021

PMI GALANG KEBERSAMAAN JAGA PERSEDIAAN DARAH NASIONAL

Farhan Irfan

Farhan Irfan

JAKARTA-Pandemi covid-19 berdampak pada penurunan persediaan darah nasional. Kesadaran bersama untuk berdonor darah perlu ditingkatkan demi memenuhi kebutuhan darah nasional. Hal tersebut diungkapkan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) saat membuka seminar peringatan Hari Donor Darah Sedunia 2021 secara virtual, Senin (14/6/2021).

Pemenuhan persediaan darah nasional sebanyak 2 persen dari jumlah penduduk disebut belum optimal selama pandemi. Penyebabnya, kata JK, pembatasan kerumunan massa karena pandemi. Sebelum pandemi, sejumlah Unit Donor Darah (UDD) PMI dapat menyelenggarakan donor darah kelompok di perusahaan, organisasi atau kelompok masyarakat lainnya.

“Maka donor darah sukarela ini yang secara rutin perlu dijaga. Kita,” jelasnya.

JK mengumpamakan aktivitas donor seperti arisan. Setiap anggota arisan, lanjutnya, secara bergilir mendapatkan kesempatan. Menurut JK, bila salah satu anggota tidak menjalankan kewajibannya sesuai kesepakatan maka akan mengganggu siklus arisan.

“Secanggih apa pun teknologi tidak ada yang bisa menggantikan darah. Kebutuhan darah dipenuhi dari manusia ke manusia. Karena itu penting saling membantu sesama dengan donor darah. Tanpa kebersamaan kita, tanpa kebersamaan orang-orang yang secara teratur mendonorkan darahnya, kehidupan dunia bisa terganggu,” terang JK.

Aktivitas menyelenggarakan donor darah merupakan salah satu tugas utama PMI sebagaimana amanat Undang-undang tentang Kepalangmerahan tahun 2018. PMI dengan dukungan 227 UDD di seluruh wilayah Indonesia, jelas JK, melayani selama 24 jam dalam seminggu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak hanya UDD, masih kata JK, sejumlah mobil unit donor darah juga disiagakan melayani donor darah di tempat publik dan melayani donor darah kelompok.

“Perlu saya sampaikan, PMI memiliki lebih dari 200 UDD di seluruh Indonesia yang beroperasi 24 jam. Kepada pendonor kelompok, organisasi, perusahaan tidak perlu khawatir. Kami menyesuaikan aturan donor darah sesuai protokol kesehatan selama pandemi,” tambahnya.

Peran PMI dalam pemenuhan kebutuhan darah nasional disebut sangat penting. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir menekankan, fasilitas Unit Transfusi Darah (UTD) milik pemerintah belum bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, sambungnya, kolaborasi dan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah dan PMI diperlukan agar layanan tersebut optimal.

“Belum semua kabupaten/kota memiliki UTD. Berdasarkan data mutakhir, sebanyak 421 kabupaten/kota memiliki UTD, tetapi masih ada 93 yang belum memiliki UTD. Untuk memenuhi kebutuhan darah selama pandemi kami mohon PMI agar tetap menyelenggarakan aktivitas donor darah, tapi kami mohon dilakukan dengan memerhatikan beberapa hal,” jelasnya.

“Agar darah yang diperoleh aman dan berkualitas perlu dilakukan seleksi calon donor, penerapan protokol kesehatan, dan pelaksanaan pencegahan infeksi, serta komunikasi pro-aktif,” imbuhnya.

Dalam peringatan HDDS yang digelar secara virtual tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Deputi 2 Bidang Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Harmensyah. Harmensyah menambahkan, dalam menghadapi kenormalan baru selama pandemi, PMI dinilai telah menyesuaikan aturan donor darah sesuai protokol kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta tidak khawatir menodorkan darahnya.

“Kita memang tidak bisa menghindari dari covid, rumusannya kita harus hidup bersama covid. Living in harmony with covid. Tapi tetap menjaga 3 M nya. Rekan-rekan pendonor darah jangan khawatir. Jangan sampai darah kurang. Harus dijaga dan dimonitor,” kata Harmensyah.

Selain pelayanan donor darah, selama pandemi UDD PMI juga melayani donor plasma konvalesens. Plasma darah dari penyintas covid-19 tersebut dinilai efektif membantu penyembuhan pasien dengan kasus aktif. Kepala Departemen Ilmu Penyakit Universitas Indonesia Iris Rengganis mengatakan, metode tersebut telah lama dilakukan di dunia kesehatan. Meski demikian, kata Iris, terapi ini tidak lebih ampuh dari vaksin.

“TPK (Terapi Plasma Konvalesens) sudah lama diterapkan sebagai pencegahan dan tata laksana dari banyak penyakit infeksi selama lebih dari 1 abad. Di SARS, MERS, H1N1, dengan efikasi dan keamanan yang baik. Tetapi masalahnya juga pelik, sulit mendapatkan donor yang NAb (Neutralized Antibodi)nya baik,” jelas Iris.

Selain kualitas NAb, efektivitas TPK juga dipengaruhi waktu pemberian. Pemberian TPK yang di saat kondisi pasien belum memburuk, kata Iris, lebih baik dibanding dalam kondisi kritis.

“Kalau sudah terlalu buruk juga kondisinya percuma. Kalau masih bisa diberikan, timing-nya harus tepat,” tukasnya.

Hari Donor Darah sedunia tahun ini diperingati PMI dengan menggelar webbinar serta mengadakan donor darah serentak di seluruh Indonesia. Dari rangkaian kegiatan yang digelar 6 hingga 10 tersebut, terkumput sebanyak 90.200 kantong darah dari 227 UDD PMI.

LOGIN

Belum punya akun? Silakan klik tombol di bawah ini untuk melakukan pendaftaran.

DAFTAR

  • Halaman 1
  • Halaman 2
  • Halaman 3
X