logo2021

CERITA RELAWAN PMI DI PENAMPUNGAN MIGRAN MYANMAR

Ayu Paraswati

Ayu Paraswati

Bantu Penuhi Kebutuhan hingga Hibur Anak Migran

Genap sembilan hari migran Myanmar ditampung di eks gedung Imigrasi Kota Lhokseumawe, Propinsi Aceh. Selama itu pula Qhalid, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) membantu memenuhi kebutuhan serta beraktivitas bersama 99 migran dari Myanmar tersebut. Urusan mengolah bahan pangan di dapur hingga mengolah kulit bundar di lapangan dijalani relawan bersama migran Myanmar.

“Sebentar, sebentar ini ada Siti (bukan nama sebenarnya) merengek,” tanggap Qhalid di sambungan telepon. Suara rengekan mereda, Qhalid melanjutkan potongan ceritanya selama di penampungan migran Myanmar. Siang menuju sore hari memang jadwal anak-anak migran bermain ditemani ‘uncle-uncle’ relawan.

“Biar gak terasa di penampungan,” kata Qhalid.

Lebih dari 33 anak migran Myanmar tinggal bersama orang tua mereka di penampungan tersebut. Hak bermain dan belajar anak-anak tersebut dipenuhi oleh sejumlah relawan organisasi kemanusiaan, termasuk oleh relawan PMI. Biar pun berbeda bahasa dan budaya, interaksi saat belajar dan bermain antara relawan dan migran nampaknya tak jadi soal.

“Di antara mereka, ada empat orang yang bisa berbahasa Melayu. Kami manfaatkan dia sebagai perantara,” tutur Qhalid.

Bermain juga, kata Qhalid, jadi aktivitas penyembuhan mental (mental healing) untuk anak-anak migran. Beragam permainan ketangkasan diperagakan dan kemudian dimainkan relawan bersama anak-anak migran. Meski banyak pemerhati anak dari berbagai organisasi kemanusiaan, jadwal belajar dan bermain ini diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu waktu istirahat anak.

Selain bercengkrama dengan anak-anak, para relawan juga meminta migran dewasa berbaur dalam berbagai aktivitas besama relawan. Pada subuh misalnya, migran Myanmar dan relawan berjamaah salat subuh. Salat berjamaah digelar dengan protokol kesehatan di salah satu ruangan di gedung berlantai dua itu. Tak jarang mereka menyempatkan mengaji sebelum memulai berbenah di lingkungan kantor yang lama tak dihuni tersebut.

“Gotong-royong bersama petugas, bersih-bersih pengungsian,” tuturnya.

Usai membabat rumput dan ilalang, giliran urusan dapur mereka kerjakan. Sejumlah migran membantu relawan memasak di dapur sambil menunggu giliran. Bukan migran wanita, melainkan migran laki-laki yang membaur di dapur bersama petugas dapur umum. Kata Qhalid, berdasarkan penuturan migran, lelaki di daerah asalnya memang terbiasa memasak.

“Katanya kalau perempuan tidak lebih cepat memasaknya daripada laki-laki,” katanya.

Relawan PMI bersama aparat kemanan termasuk yang bersiaga selama 24 jam di posko penampungan tersebut. Qhalid mengaku hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Selebihnya ia bergantian bersama relawan lainnyya memantau dan menyalurkan bantuan untuk migran Myanmar tersebut.

“Karena mereka diisiloasi, jadi kami coba berkegiatan besama agar mereka juga gak kebosanan,” tukasnya.

Qhalid mengatakan, mulanya terdapat kecanggungan antara relawan dengan migran, namun itu hanya berlangsung selama dua hari. Hari berikutnya bahkan mereka sudah bermain bola bersama.

LOGIN

Belum punya akun? Silakan klik tombol di bawah ini untuk melakukan pendaftaran.

DAFTAR

  • Halaman 1
  • Halaman 2
  • Halaman 3