Menu

 

A Member Of 

Ketika Bali Gelap Gulita Featured

nyoman Sedeng (70 tahun) Warga Desa Besakih Bali, yang berada dimulut kawah kaki gunung Agung nyoman Sedeng (70 tahun) Warga Desa Besakih Bali, yang berada dimulut kawah kaki gunung Agung

Siang seperti malam dan gelap pun menyelimuti Bali saat Gunung Agung meletus dan mengeluarkan abu pada Februari 1963. Begitu kenangan Nyoman Sedeng (70 tahun) saat menceritakan pengalamannya saat itu. Ia dan keluarganya menjadi saksi letusan gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu yang tertidur selama 120 tahun lamanya.

“Saat Gunung Agung meletus, Bali berkabut. Gelap sekali seperti malam dan malam seakan sangat panjang,” kata Nyoman yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar.

Nyoman adalah warga Desa Besakih Kawah Kunyit yang hanya berjarak 8 kilometer dari mulut kawah Gunung Agung. Ia bercerita, saat gunung yang dipercaya tempat bersemayam dewa-dewa ini meletus, ia dan warga lainnya lari berhamburan. Saat itu belum ada himbauan dari pemerintah untuk pergi ke lokasi aman. Nyoman pun harus menempuh perjalanan sejauh 11 kilometer untuk mencapai Desa Pempatan, tempat ia dan keluarganya akhirnya mengungsi.

“Saya berjalan kaki sejauh 11 kilometer. Rasanya lelah sekali dan saya kelaparan,” ingat bapak satu anak ini.

Pascaletusan Gunung Agung, terjadi hujan batu kerikil selama 3 hari. Siang hari di Bali masih terasa seperti malam karena kabut. Setelah hujan kerikil mereda, Nyoman dan 4 orang keluarganya kembali ke desanya untuk mencari makan. Disana ia melihat tanaman, ternak seperti ayam, sapi, anjing banyak yang mati. Rumahnya pun telah rusak dan tertimbun reruntuhan batu.

“Karena lapar, saya kembali ke desa untuk mencari makanan. Saya lihat tanaman-tanaman pada mati. Ayam, sapi, anjing, semua mati. Banyak bangkai hewan. Rumah saya juga sudah tidak berbentuk. Tertimbun bebatuan sampai 70 sentimeter,” ingatnya.

Sekembali Nyoman ke desanya, hujan batu kerikil terjadi selama 3 hari. Setelah reda, ia sekeluarga kembali mengungsi ke Desa Menange selama 6 bulan. Kehidupan disana mulai membaik untuknya dan warga lainnya. Disana Nyoman mendapatkan makanan yang cukup untuknya dan keluarganya.

“Kami mendapat jaminan beras dan ikan asin. Kalau jaminan habis, saya menukar kayu bakar dengan ketela. Apa saja yang bisa dimakan,” kata Nyoman yang

ditemui di Pos Pengungsian 2 Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Diakui Nyoman, kondisi di pengungsian dalam kesiapsiagaan Gunung Agung saat ini sudah jauh lebih baik. Warga yang tinggal di pengungsian diperhatikan dan makanan tersedia dengan baik.

“Berbeda dengan dulu, sekarang keadaan jauh lebih baik. Bantuan makanan sudah ada dan cukup. Kami pun diperhatikan disini,” kata Nyoman yang telah mengungsi selama satu bulan.

Nyoman adalah salah satu dari masyarakat terdampak Gunung Agung yang kini mengungsi di Pos Pengungsian 2 di Desa Pesaban ini. Di lokasi tersebut, Nyoman dan warga lainnya mendapatkan bantuan air bersih dan bantuan kloset untuk melakukan kegiatan mandi, cuci, kaki (MCK), yang dibangun PMI. (Red: Aulia Arriani)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96,  Jakarta 12790 - Indonesia

Telp. +62 021 7992325 Faks. +62 021 7995188  Email: pmi@pmi.or.id