Menu

 

A Member Of 

Lisnat, Gadis Tegar Berkacamata Featured

Lisnat sedang melakukan pemeriksaan mata Lisnat sedang melakukan pemeriksaan mata

Namaku Lisnat Koibai. Namun kamu bisa memanggil ku Lisnat. Rumahku berada di distrik Urei Faisei, Kabupaten Waropen, Papua. Aku adalah anak dari 4 bersaudara. Ketiga kakak ku sudah jauh lebih besar dariku. Kini, mereka telah memiliki keluarganya masing-masing, dan pergi meninggalkan rumah. Sedangkan ayah telah meninggal dunia sebelum aku lahir kedunia. Alhasil, tinggal lah aku si anak bungsu yang selalu menemani dan menjaga mama tercinta.

Sama seperti anak-anak lainnya, selain membantu mama, aku pun menimba ilmu di sekolah. Tadinya, aku tak ingin bersekolah karena tak ingin membebani mama dengan biaya yang cukup besar. Maklum, kami hanya punya warung kelontong kecil-kecilan yang menjadi tumpuan hidup kami berdua. Itu pun tak melulu untung. Kadang tak satupun warga yang datang membeli ke warung mama.

Namun mama bersikeras agar aku tetap bersekolah. Ia ingin aku dapat bersekolah tinggi hingga kelak bisa membantunya. Akhirnya, dengan semangat yang tinggi, aku pun duduk dibangku sekolah dasar. Dan kini aku telah berada di kelas 6 SD.

Aku dan Mataku

Suasana sekolah masih tetap sama. Namun entah mengapa akhir-akhir ini, aku merasa ada yang salah dengan diriku. Kemampuan indra penglihatanku menurun.

“Ah… paling hanya kurang istirahat. Mungkin aku terlalu letih,” pikirku.

Hari berganti hari, penglihatanku tak kunjung pulih. Malah makin terasa buram.

“Tuhan… Ada apa denganku? Jangan kau ambil satu lagi mataku Tuhan.” Lirihku dalam doa.

Ya.. aku hanya memiliki satu mata untuk melihat. Mata sebelah kiriku sudah tidak mampu melihat sejak umur 1 tahun. Ketika itu, mataku mengalami iritasi karena tangan mungilku kala itu senang sekali mengucek mata. Khawatir dengan kondisi ku, tanpa bekonsultasi dengan dokter, mama meneteskan obat tetes mata.

Berharap anaknya sembuh, ternyata malah sebaliknya. Mataku semakin parah dan dinyatakan tak dapat melihat. Aku tak pernah menyalahkan mama ku soal ini. Maklum, didaerah terpencil seperti ini, tidak ada dokter mata dan rumah sakit pun jauh sekali. Jadi ku anggap ini sebagai takdir Tuhan.

“Mama.. aku khawatir dengan mataku. Penglihatanku semakin buram.” Ujarku kepada mama.

“Tenang Lisnat. Nanti kalau sudah punya uang, kita akan pergi ke dokter untuk memeriksakan matamu ya nak,” jawab mama ku menenangkanku.

Kasih Tuhan memang tak pernah putus untuk umatnya. Seminggu setelahnya, pihak puskesmas Kabupaten Waropen menginformasikan bahwa akan ada pemeriksaan mata gratis dari Palang Merah Indonesia (PMI). Tanpa berfikir lama, mamaku segera mengajakku pergi ke puskesmas.

“Dok, mata anak saya kenapa?” Tanya mamaku kepada dokter yang memeriksakan mataku.

“Mata anak ibu mengalami rabun jauh. Sedangkan mata kirinya harus diobservasi lebih mendalam. Dan kemungkinan masih dapat dioperasi di Rumah Sakit Jayapura.” Terang sang dokter.

“Lantas harus bagaimana agar anak saya bisa melihat?” lanjut mamaku.

“Anak ibu akan kami berikan kacamata agar bisa melihat lebih baik lagi.” Ujar dokter

Puji Tuhan… akhirnya aku dapat kembali melihat dengan jelas lagi dengan menggunakan kacamata. Ya, walaupun mata kananku masih belum sembuh. Tapi semoga mamaku memiliki rezeki berlebih agar dapat membiayai penyembuhan mata kanan ku.

Lisnat, gadis tegar berkacamata ini kini dapat menjalani harinya dengan lebih ceria dan mampu meraih prestasi gemilang disekolahnya. 

Last modified onSenin, 20 Maret 2017 04:58

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96,  Jakarta 12790 - Indonesia

Telp. +62 021 7992325 Faks. +62 021 7995188  Email: pmi@pmi.or.id