Menu

 

A Member Of 

8 Tahun Berpisah, Ilyas Mau Pulang Featured

Menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal yang mudah. Pahit getirnya kehidupan pun harus ditelan demi mencukupi kebutuhan keluarga. Hal inilah yang dirasakan oleh Ilyas Bin Abdul Razak. Pria asal Morowali, Sulawesi Tengah ini memilih merantau ke Sabah, Malaysia menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Delapan tahun berada di negeri Jiran, nyatanya tak membuat perjalanan hidup Ilyas berlalu dengan mudahnya.

“Saat saya bekerja disana, saya kehilangan benda berharga milik saya, Handphone. Saya jadi tidak bisa menghubungi ibu saya. Apalagi kemarin, saat kejadian bencana. Cemas sekali dengan kabar keluarga disana. Tapi gak bisa menghubungi,” tutur Ilyas dengan raut wajah bersedih, saat kembali mengenang semua hal yang dilaluinya.

Baginya kehilangan sebuah handphone sangatlah menyksa batinnya. Bagaimana tidak, karena hanya dengan handphone itulah ia dapat menyampaikan berjuta rindu pada ibunda tercinta. Dan hanya dengan handphone itulah ia merasa dekat dengan kampungnya, meski berada di negeri orang. Kehilangan sebuah handphone bak kehilangan separuh jiwanya. Ilyas pun harus terus menjalani hidupnya meski kali ini terasa benar-benar dalam kesendirian.

Untung tak dapat dirah, malang tak dapat ditolak. Kesedihan kembali datang merangkul Ilyas. Ia terpaksa harus dideportasi dari Malaysia bersama 88 TKI lainnya asal Indonesia.

“Saya bersama 88 TKI lainnya di deportasi dari Malaysia karena paspor kami habis masa berlakunya. Tidak diperpanjang olek pihak agensi. Makannya kami dibawa ke Pusat Tahanan Sementara di Tawau, Sabah, Malaysia. Setelah itu, baru dibawa ke Nunukan.”Terangnya.

Mencari Keluarga Ilyas

Mengetahui ada kedatangan TKI yang dideportasi, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nunukan dengan sigap memberikan pelayanan pemulihan hubungan keluarga atau sering dikenal dengan Restoring Family Links (RFL) kepada 88 TKI asal Indonesia tersebut.

Aksan, salah satu tim RFL PMI Nunukan mengatakan bahwa ia bersama tim memberikan dukungan berupa pelayanan telefon gratis bagi TKI yang sudah lama tidak berkomunikasi dengan keluarganya. Tak hanya itu, PMI juga menyediakan layanan surat, jika diantara mereka ingin menyurati keluarganya.

Bertempat di Rusunawa dekat pelabuhan Tunon Taka, Kabupaten Nunukan, disanalah kisah perjuangan pencarian keluarga Ilyas dimulai.

“Di rusunawa saya bertemu dengan Ilyas. Kala itu saya memintanya untuk menuliskan surat untuk keluarganya. Setelahnya kami akan berupaya untuk mencari keluarganya sesuai dengan informasi yang diberikan,” jelas Aksan.

Memiliki cabang diseluruh Indonesia, membuat PMI mampu melakukan pencarian ini.

“Kami langsung berkontakan dengan PMI Sulawesi Selatan dan langsung diindaklanjuti oleh PMI Kabupaten Morowali. Memakan waktu 2 hari, akhirnya keluarga Ilyas yang tinggal di Desa Bahon Soae Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, ditemukan dalam keadaan tak kurang satu apapun,” tutur Aksan.

Orang tua Ilyas sangat bahagia bukan kepalang saat mengetahui bahwa anaknya selamat dan kini berada di Nunukan. PMI Kabupaten Nunukan pun langsung mendatangi Ilyas di rusunawa untuk membawa kabar baik ini. Ilyas amat sangat berbahagia.

“Ilyas mau pulang mah. Ilyas kangen.”Tutur Ilyas saat menelfon mamanya. Tanpa sadar air mata kebahagiaan pun mengalir deras di pipinya.

Seperti sebuah perahu, sejauh apapun perahu itu pergi berlayar, akan ada saatnya ia akan kembali berlabuh di pelabuhan. Dan pelabuhan itu bernama keluarga.  

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96 Jakarta - Indonesia  Telp. +62 021 7992325 Faks. +62 021 7995188  Email: pmi.or.id,  Laman: www.pmi.or.id

Jumlah Pengunjung

167725