Menu

 

A Member Of 

Gempa Hancurkan Segalanya Featured

Inza bersama nenek tercintanya, Ibu Siti. Inza bersama nenek tercintanya, Ibu Siti.

“Allahuakbar… Allahuakbar… Astagfirullah… Ya Allah….” Seru takbir bersautan dari seluruh warga Lombok pada Minggu (5/8) malam itu. Semua orang panik berhamburan ke jalan, tak tentu arah. Rumah, bangunan, pohon dan kendaraan di jalan berguncang begitu dahsyatnya. Bak bumi sedang murka, mengamuk sangat gaduh hingga meluluh lantahkan yang mendiaminya.

“Ngeri sekali kak. Bruk, bruk, bruk, begitu semua bangunan berbunyi dan runtuh semua. Mana lampu juga mati saat itu. Kami lari saja sesuai perintah bu ustadzah.” Cerita salah seorang gadis yang menjadi saksi bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan 7 skala richter menimpa Lombok Utara itu.

Inza Nurzahra, gadis kecil yang sering dipanggil dengan Inza ini, kala itu sedang mondok di pesantren. Sedang khusyuk berwudhu, tiba-tiba ia merasakan guncangan. Sempat mengira ini akan berlangsung sebentar, ternyata guncangan yang dirasakan semakin hebat.

“Lagi khusyuk mau solat isya, eh gempa. Disitu aku pelukan sama teman-teman saking takutnya. Apalagi kondisinya kami jauh dari keluarga. Manangis lah itu sejadi-jadinya. Dan berlari kami semua.” Ucapnya.

Paska gempa usai, jalanan menjadi ramai riuh dengan warga yang berhamburan. Bunyi sirene ambulan meraung-raung memecah keheningan malam itu. Tak ada yang pernah menyangka, malam itu menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan oleh seluruh warga di negeri seribu masjid.

“Aku pun bingung. Ingin pulang tak bisa. Jarak rumah jauh sekali dengan pesantren. Untungnya ada teman bapak yang bawa saya menemui bapak. Lega rasanya bisa bertemu keluarga kembali. Walaupun dengan keadaan yang seperti, tidur diluar, yang penting sudah sama keluarga.” Tuturnya lirih.

Haru Biru Bersama Keluarga

Ternyata memang benar adanya, rumah terbaik untuk kembali adalah keluarga. Walaupun harus beralaskan tikar, makan makanan seadanya, asalkan bersama keluarga, semua hal terasa lebih indah. Hal ini juga yang membuat gadis berusia 15 tahun ini, ikhlas menjalani hari-harinya paska gempa bumi lalu.

“Kami tidur ya seperti ini, diluar hanya dengan tikar, tanpa atap tanpa selimut. Malam kedinginan, siang kepanasan. Tak apa, yang penting sama keluarga. Cukup sudah,” katanya.

Desa Dangiang, Kabupaten Lombok Utara adalah salah satu wilayah yang terparah terdampak gempa. Tak ada yang tersisa satu pun. Semua rumah luluh lantah. Rata dengan tanah. Salah satunya adalah rumah dari anak kedua kepala desa Dangiang ini.

“Sudah 2 hari paska gempa belum ada satupun yang datang kesini. Alhamdulilah sekarang sudah ada bantuan terpal dan selimut dari PMI. Jadi sudah tidak kedinginan dan kepanasan lagi,” terang Inza.

Masifnya kerusakan di Desa Dangiang, menjadikan desa tersebut menjadi lokasi utama pelayanan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Tak hanya membantu mendirikan tenda pengungsian, PMI juga bantu memberikan selimut, alat kebersihan diri, air bersih hingga pelayanan kesehatan.

“Nenek dan ibu juga mendapatkan pengobatan dari pak dokter. Kepala mereka bocor tertimpa atap. Aku fikir ibu dan nenek tidak akan bisa selamat. Tapi Alhamdulilah hanya luka saja. Dan sudah diobati oleh dokter-dokter,” ujarnya lega.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Markas Pusat Palang Merah Indonesia

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96 Jakarta - Indonesia  Telp. +62 021 7992325 Faks. +62 021 7995188  Email: pmi.or.id,  Laman: www.pmi.or.id

Jumlah Pengunjung

113908